Kamis, 10 Januari 2013

Filsafat Ilmu dan Filsafat Akademik


Filsafat hidup dan filsafat akademik
Jika filsafat itu sendiri dijadikan obyek pemikiran, setidaknya ada dua sisi penting di dalamnya yaitu sisi fungsi dan artinya bagi manusia.Dari sisi pertama menunjuk adanya suatu filsafat  hidup, sedangkan pada sisi kedua mengandung arti keilmuan yang kemudian dapat di sebut sebagai filsafat akademik.
1.     Filsafat Hidup
                   Sering dikenal sebagai way of life atau pedoman hidup yang kemudian membentuk cara hidup yang mendasarkan diri pada suatu paham untuk mencapai tujuan hidup.
                   Adapun dasar atau sumber filsafat hidup itu adalah paham-paham atau aliran-aliran yang bersumber dari agama-agama, kepercayaan-kepercayaan.Kebudayaan dan adat istiadat yang berlaku dan yang hidu. Misalnya ada filsafat hidup orang Bugis – Makassar, orang jawa, bangsa Indonesia dan sebagainya.
          Dari filsafat hidup menimbulkan sikap dan cara hidup yang pada gilirannya dapat membentuk tingkah laku teratur dan konsisten, penuh segala konsekwensi agar kemudian sampai pada tujuan hidup yaitu kebahagiaan hidup.
          Selanjutnya, suatu filsafat hidup dapat dikembangkan dari dan dengan cara keyakinan.Di sini tidak ada teori apapun kecuali langsung melakukan penghayatan atas pedoman-pedoman atau norma-norma yang telah diyakini kebenarannya. Dalam penghayatan ini tidak ada kritik apapun kecuali ketaatan dan kepatuhan menjalankan prinsip-prinsip hidup yang telah diyakini.
          Oleh karenanya, filsafat hidup biasanya bersifat tertutup. Dari sinilah ideologi suatu bangsa muncul untuk selanjutnya dapat membentuk suatu nasionalisme emosional.Seperti Naziisme,Shintoisme.Pancasila-isme dan sebagainya.


2.     Filsafat Akademik
      Berbeda hanya dengan filsafat hidup, filsafat akademik mempelajari obyek menurut cara pandang, metode dan system tertentu untuk mencapai kebenaran yang dapat dipertanggung jawabkan. Dengan demikian jelaslah apa menjadi sasaran filsafat akademik adalah pengetahuan hakiki  mengenai hal atau barang sesuatu.Pengetahuan demikian, selanjutnya menjadi dasar perilaku etis dan sangat berguna bagi penentuan pedoman atau dasar untuk berbuat yang benar, agar kebenaran sejati dapat diaktualisasikan. Perlu diketahui bahwa kebenaran demikian adalah kondisi mutlak bagi terselenggaranya etika kehidupan berupa kebahagiaan hidup.
      Selain itu, filsafat akademik bersifat terbuka. Oleh karena itu hal-hal seperti pembuktiaan, verifikasi, kritik dan sebagainya adalah sah-sah saja.Langkah-langkah ini semua justru disebabkan oleh fakta keterbatasan akal ratio dan bervariasinya pengalaman hidup manusia. Tidak seperti filsafat hidup, filsafat akademik bisa sifat keterbukaan itu mengakibatkan filsafat akademik cenderung untuk bertanya secara terus menerus, sampai pertayaan itu sedapat mungkin bisa diberikan jawabannya.Apa yang dapat diharapkan dari sikap kritik itu, tidak lain adalah dapat terbukanya rahasia yang mebungkus realitas ini, sehingga segala sesuatunya menjadi gamblang.
                Kemudian filsafat akademik tidak hanya sampai pada taraf berpikir ilmiah saja, melainkan lebih dari pada itu tertuju kepada pemikiran radikal , untuk kemudian sampai pada pengetahuan yang hakiki artinya, tidak hanya melalui satu cara pandang, metoda dan sistem saja, melainkan secara komprehensip menyuluruh. Artinya, dalam rangka mendapatkan pengetahuan hakiki itu, setiap cara pandang, metoda dan sistem itu dikaitkan secara integral dan dikerjakan secara sinergik dan konsisten. Dari sini tampaklah bahwa tugas filsafat adalah memberikan kritik secara radikal. C.A. Van Peursen menggambarkan filsafat sebagai seni bertanya, filsafat tidak merumuskan jawaban, tetapi merumuskan pertayaan-pertayaan. D.C.Mulder menjelaskan bahwa filsafat adalah berpikir ilmiah , tetapi tidak setiap pemikiran ilmiah itu filsafat.            
    


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar